Atraksi permainan replika naga lampion sepanjang 178 meter memukau warga kota Singkawang, Kalimantan Barat, maupun wisatawan yang menyaksikan, Kamis (9/2/2017).

Warga terlihat memadati sepanjang ruas jalan yang menjadi rute dilewati naga tersebut. Seperti yang terlihat di sekitar Vihara Tri Dharma Bumi Raya,  Begitu terdengar suara tetabuhan alat musim di kejauhan, warga kemudian semakin mendekat dan berdesakan, sembari mempersiapkan telepon berkamera menantikan naga tersebut melintas.

Tak hanya warga Singkawang, salah satu wisatawan asal Balikpapan, Baskoro mengaku penasaran dengan naga yang dinantikan tersebut.

Sebelumnya ia sempat melihat naga tersebut usai prosesi ritual buka mata naga di Kelenteng Fuk Tet Chi di Jalan Alianyang, Kamis (9/2/2017) sore.

Wisatawan asal Kota Pontianak, Rehan, mengaku takjub dengan naga raksasa yang dipersembahkan oleh alumni sekolah Katolik, Santo Yosep Group Singkawang tersebut.
“Baru kali ini saya lihat replika naga raksasa yang luar biasa panjangnya ini,” ujarnya.

Baca juga : 10 Destinasi Paling Naik Daun di Kalangan Turis Indonesia 2017

Naga raksasa tersebut dimainkan oleh 180 orang mengenakan pakaian serba merah. Pada bagian kepala naga tersebut dilengkapi lampu berwarna warni sehingga menambah indah pertunjukannya.

Bikin Wisatawan Terpukau Juga Raih Rekor Muri

Replika sosok naga raksasa sepanjang 178 meter yang turut memeriahkan perhelatan budaya akbar tersebut berhasil tercatat sebagai naga terpanjang oleh Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri). Naga raksasa berdiameter 1,1 meter dengan 50 ruas ini merupakan sumbangsih alumni persekolahan swasta yang tergabung dalam Santo Yosep Group Singkawang yang tahun ini genap berusia 50 tahun.

Wakil Direktur Muri, Osmar Semesta Susilo mengatakan, rekor yang berhasil dipecahkan tersebut berskala internasional. Pihaknya juga sudah melakukan penilaian dan mengukur panjang replika sosok naga tersebut.

“Hari ini tim Muri akan mencatatkan rekor baru di Singkawang, yaitu rekor naga lampion terpanjang dengan panjang 178 meter,” ujar Osmar, Kamis (9/2/2017).

Penyerahan piagam Rekor Muri untuk replika naga yang berhasil memecahkan rekor sebagai naga terpanjang dengan panjang 178 meter di Singkawang, Kalimantan Barat,

foto :Abdul Adul
Penyerahan piagam Rekor Muri untuk replika naga yang berhasil memecahkan rekor sebagai naga terpanjang dengan panjang 178 meter di Singkawang, Kalimantan Barat, Kamis (9/2/2017).

Osmar memaparkan, replika naga terpanjang yang dibuat oleh Santo Yosep Group Singkawang ini berhasil memecahkan rekor sebelumnya, yaitu replika naga lampion yang di buat oleh PT Tri Sakti Purwo Sari Abadi Grup pada tahun 2015.

Koordinator replika naga, Bong Sin Fo mengatakan pihaknya cukup bangga dengan prestasi yang ditorehkan. Karena, selain memeriahkan Festival Cap Go Meh, juga mencatatkan sejarah tersendiri untuk Kota Singkawang melalui apresiasi yang diberikan Muri.

“Kami sangat gembira, karena naga ini tercatat sebagai replika naga terpanjang dalam sejarah perayaan Festival Imlek dan Cap Go Meh di Kota Singkawang,” ungkapnya.

Bong Sin Fo menjelaskan, butuh persiapan selama empat bulan untuk proses pembuatan naga raksasa tersebut. Waktu yang cukup panjang itu pun akhirnya terbayar dengan prestasi rekor Muri. Pengerjaan naga tersebut juga melibatkan tenaga lokal dari Kalimantan Barat yang berasal dari daerah Pinyuh. Sedangkan biayanya sendiri, mencapai ratusan juta rupiah yang diperoleh dari sponsor maupun donatur. Untuk memainkan naga ini, setidaknya dibutuhkan 180 orang yang membawa naga ini berkeliling dan menghibur warga Kota Singkawang serta para Wisatawan.

Wali Kota Singkawang, Awang Ishak mengapresiasi hasil karya alumni sekolah Katolik Santo Yosep ini. Karya yang dipersembahkan tersebut tentu menjadi kebanggaan bagi masyarakat di Kota Singkawang.

“Kita patut bersyukur karena kawan-kawan dari Santo Yosep Group Singkawang ini telah memberikan karya yang menjadi kebanggaan masyarakat dan memecahkan rekor Muri. Tentu kita berharap apa yang telah dilakukan ini bisa menarik Wisatawan lokal maupun asing untuk berkunjung ke kota Singkawang,” kata Awang Ishak.

Sumber : http://travel.kompas.com/